Sabtu, 12 Agustus 2017

RINDU ITU BERGANTI HUJAN





Pengantar

Dua tahu lalu, mampir ke Perpustakaan Pataba seorang berpakaian rapi, tapi tidak mewah. Ia datang naik becak seorang diri. Ketika saya tanya, ia mengaku sebagai petani Bangilan. “Petani dari Bangilan? Dari dunia entah-berantah mana lagi ini?” tanya saya dalam hati. Heran menjurus tidak percaya. Yang saya tahu cuma Bangil, salah satu daerah di Jawa Timur. Dan, saya menganga ketika ia memborong buku-buku yang saya jual, termasuk Pentalogi Pram.
Kira-kira seminggu kemudian, ia kembali datang membeli buku yang belum ia beli. Kali ini ia naik mobil pengangkut pupuk dari toko yang berjarak sekitar 400 meter dari Perpustakaan Pataba. Ia datang bersama seorang laki-laki yang dikenalkan kepada saya sebagai pendeta Bangilan dan juga dibelikan buku di Perpustakaan Pataba. Yang menghentakkan saya adalah karena dia petani, sementara mahasiswa dan calon sarjana saja belum tentu membaca buku sastra. Dia petani, petani Bangilan lagi! Dulu, buat saya itu adalah sebuah keajaiban, tapi sekarang tidak lagi karena semakin banyak bukti-bukti bahwa di Bangilan berkembang budaya membaca dan menulis.
Beberapa waktu lalu saya diundang ke Tuban oleh Pangeran Jomblo Revolusioner, wartawan Jawa Pos, Aam. Disambut dengan seni hadroh oleh komunitas baca Gerakan Tuban Menulis. Di situ saya melihat begitu antusiasnya bedah buku Pram dari Dalam yang saat ini sudah cetakan ketiga. Dan kini, di hadapan saya naskah karangan Mas Rohmat Sholihin memiliki judul sangat puitis, penuh teka-teki, Rindu Itu Berganti Hujan. Saya melahap “rindu” itu dalam waktu empat hari setelah selesai menguntal naskah Mas Joyo Juwoto berjudul Dalang Kentrung Terakhir yang lebih tebal dalam waktu tiga hari. Sebelum kedua naskah itu, saya juga membaca naskah Mbak Linda Tria Sumarno berjudul Eutanasia dalam waktu dua hari. Ketiga naskah tersebut berasal dari Bangilan.
Ketiga naskah tersebut punya kelebihan yang baru kali pertama saya dengar dan baca, misalnya tulisan Mas Rohmat Sholihin berjudul “Ingin ke Surga”, “Mbakyu Sri”, “Gedung Tua Sejarah Baru.” Sebuah kisah menyentuh yang ia tulis berdasarkan kisah nyata dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan daya khayal penulis. Dan, bukankah apa yang terjadi dalam cerita “Si Fajar” juga yang terjadi dunia pendidikan kita dewasa ini: seharusnya pendidikan itu bukan di mana belajar, melainkan bagaimana belajar, seperti yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara.
“Rindu Itu Berganti Hujan” adalah sebuah cerita romantis tentang kerinduan, tentang cinta yang tak tersampaikan. Begitupun dengan cerita “Kutunggu.” Sementara cerita “Stasiun Tua di Kampungku” dan “Lorong Gelap” menceritakan tentang realisme-cinta, ketika cinta harus berbenturan dengan realitas yang terjadi di masyarakat, walaupun mungkin agak klise, tapi saya yakin masih terjadi dewasa ini. Ketika kekayaan, pangkat, dan jabatan menjadi jurang pembeda yang memisahkan dua orang yang saling mencintai. Pada akhirnya setiap tokoh memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah purba yang selalu ada – cinta.
Selain itu, masih banyak lagi tulisan Mas Rohmat Sholihin ini yang harus kita cermati isi dan kita nikmati gaya menulisnya, seperti “Roy” yang menceritakan tentang pengorbanan cinta dan kebesaran hati merelakan orang yang dicintai untuk orang lain. Dan, yang paling memukau saya adalah khalayan liar dari Mas Rohmat Sholohin ketika menceritakan “Mendung di Atas Kerajaan Kali Kening” yang mengaku sebagai aktivis komunitas literasi Kali Kening Bangilan, Tuban.
Itu komentar saya. Entah pendapat yang lain. Yang jelas tetap berlaku rumusan para pakar sebelumnya: “Rasa tak bisa diperdebatkan.” Rasa seseorang adalah rasa milik tunggal seseorang. Dan, tidak mungkin ada duanya. Lebih-lebih rasa yang dimiliki oleh sang penulis sendiri. Oleh karena itu, satu karya memiliki sejuta pendapat tetap bertengger di dunia seni, termasuk tulis-menulis.
Yang pasti, ilham Mas Sholihin adalah universal. Begitu banyak yang ia ungkapkan. Termasuk cerpen “Surat untuk Ayani.” Membaca cerpen itu saya teringat pengarang Rusia, Fyodor Dostoyevsky, yang memperoleh sukses besar pada karya pertamanya. Padahal ia memperoleh ilham dari pengarang seniornya, Nikolai Gogol dengan tema sama – tentang surat. Cuma penulisannya lebih menyentuh hati dan sedikit berbau, istilahnya, Plato’s love (percintaan pertama antara janda kaya Jerman dengan komponis kondang dari Rusia, Chaikovskii).
Cerpen “Ibunya Ibu” tak kalah mengharukan, yang diakui pengarang sendiri lahir karena terinspirasi dari buku Pramoedya Ananta Toer tentang kekejaman fasisme Jepang di Indonesia, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Tentang itu pun saya sudah menulis novel berjudul Serigala yang menceritakan tentang tiga negara fasis dunia yang saya sebut Gerija (GERmany-Italy-JApan) yang semoga saya dapat segera terbit.
Dalam buku ini sepintas juga diungkap tiga tokoh utama Arus Balik – Wiranggaleng, Idayu, dan Syahbandar Almasawa. Pram pernah dikritik pedas kritikus sastra angkatan Balai Pustaka, Balfas, karena memadukan antara fiksi dengan kenyataan. Namun justru Pram sukses oleh kritik yang dilontarkan kepadanya. Idayu dalam buku Arus Balik itu siapa? Dia adalah ibu Bung Karno yang bernama Ida Ayu. Dalam Bumi Manusia, siapa nama asli Nyai Ontosoroh? Sanikem. Dalam dunia nyata kehidupan Pram ada tokoh bernama Sakinem. Dia adalah ibu Markaban, teman angon kambing Pram yang mengajari Pram merokok dan minum kopi, dua hal yang memberikan ia ilham dan melambungkan namanya dalam dunia sastra nasional, bahkan internasional. Belakangan, saya juga merasa bahwa nama Nyai Ontosoroh itu pun diambil dari nama Dewi Ontrowulan dalam legenda Gunung Kemukus.
Seperti itulah ilham manusia. Ia bak benang merah sejarah masa lalu, dipadukan dengan masa kini dan daya khayal penulis. Saling berpilin antara fiksi dan realita yang ada. Keduanya saling melengkapi dalam sebuah cerita.  Dan, itu tak terbantahkan dalam karya Mas Rohmat Sholihin. Pesan saya, teruslah menulis, Mas Rohmat Sholihin mumpung banyak ilham. Saya tunggu karyamu selanjutnya. Seperti buku pesanan SBY yang berjudul Harus Bisa. Soal penilaian, biar nanti pembaca yang menentukan.
Tahun 1969, saya juga menulis sebuah sebuah novel setebal 93 halaman folio, yang saya beri judul Di Dua Kaki Gunung Ayu dan kemudian saya ubah menjadi Kompromi. Novel tersebut saya tulis dalam waktu 11 hari, antara 12 November sampai 21 November ketika berumur 32 tahun dan sibuk kerja, mencari uang, mempersiapkan ujian bilingual, dan menulis disertasi yang kemudian saya terjemahkan secara garis besar dan saya bukukan menjadi Republik Jalan Ketiga. Mas Rohmat Sholihin harus bisa mengalahkan saya. Tolong jangan menganggap semua ini saya hendak pamer keberhasilan. Bukan. Justru saya ingin pamer kegagalan. Bukankah saya rektor – ngorek yang kotor-kotor. Dan, gelar lain yang saya peroleh belakangan ini adalah ASU – aku sugih (kaya/banyak) utang.
Sudah sepantasnya budaya baca-tulis berkembang di negeri ini. Sebagai bangsa, Indonesia sudah lebih dari cerdas, tapi mengapa budaya baca-tulis jauh ketinggalan? Bukan saja di dalam negeri, melainkan juga bila dibandingkan dengan negara luar. Bahkan bila dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, kita jauh tertinggal. Dalam hal membaca pun peringkat anak-anak Indonesia termasuk salah satu yang terbaik, bukan dari atas, melainkan dari bawah.
Di tengah keprihatinan tersebut, tersematlah sebuah harapan akan masa depan dunia sastra Indonesia yang lebih baik. Salah satu contoh menggelitik yang menjadi alasan itu adalah bangkitnya gejala baca-tulis di Bangilan, Tuban. Ke depannya, saya yakin akan terus lahir pendekar-pendekar budaya baru di Bumi Pertiwi ini, terutama dalam dunia tulis-menulis. Itu adalah tuntutan alami sejak dimulainya apa yang dinamakan peradaban manusia. Sokrates telah menandaskan, “Bacalah, karena menulis itu lebih sulit.” Pramoedya Ananta Toer (dan Pataba) berkoar, “Bacalah, bukan bakarlah!” Saya mencoba gagah-gagahan menambahi: “Bacalah dan bakarlah…!” Silakan isi titik-titik tersebut sesuai keinginan Anda, asalkan itu positif. Hal itu akan saya usahakan terwujud sebelum peringatan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-72. Semoga.

Blora, 21 Juli 2017
Soesilo Toer


Rindu itu berganti hujan, menyorami rumput dan pelataran rumahku yang gersang dan kesepian. Tanpamu aku seperti bangkai busuk, baunya menyebar. Menyedihkan memang. Aku hanya bisa bertahan dengan ilusi tentangmu. Ilusi yang lepas dari kenyataan. Ilusi yang sudah tidak sewajarnya karena kamu sudah lama pergi dariku dan tak ada kesempatan untuk kembali, ya, takkan mungkin kembali. Sedangkan rindu dan ilusi itu bergelantungan dalam otak dan hatiku setiap detik, setiap waktu. Wajah dan senyummu selalu ada di sana. Menjelma rintik hujan yang tak pernah usai.


“…masih banyak lagi tulisan Mas Rohmat Sholohin ini yang harus kita cermati dan kita nikmati gaya menulisnya. Dan, yang paling memukau saya adalah khayalan liar dari Mas Rohmat Sholihin ketika menceritakan ‘Mendung di Atas Kerajaan Kali Kening’. Itu komentar saya. Entah pendapat yang lain… Yang pasti, ilham Mas Sholihin adalah universal. Begitu banyak yang ia ungkapkan… Seperti itulah ilham manusia. Ia bak benang merah sejarah masa lalu, dipadukan dengan masa kini dan daya khayal penulis. Saling berpilin antara fiksi dan realita yang ada. Keduanya saling melengkapi dalam sebuah cerita. Dan, itu tak terbantahkan dalam karya Mas Rohmat Sholihin.”
Soesilo Toer –


Penulis: ROHMAT SHOLIHIN
Penyunting: SOESILO TOER
Penerbit: KOMUNITAS KALI KENING & PATABA PRESS
Cetakan Pertama: Agustus, 2017
Tebal Buku: xx + 200 halaman, 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-61772-1-6
Harga: Rp.71.000